Anggur Hitam



Di hutan rimba hiduplah seorang kakek tua bernama sudirman  dan cucunya bernama misyati. Dahulunya keduanya hidup dengan damai dan penuh kebahagiaan dalam hidup mereka, sekalipun hidup di hutan rimba. Keduanya masih  bisa merasakan alam di sekitarnya, tanpa ada satupun musibah yang besar menimpanya. Berselang kurang lebih 30 tahun lamanya hidup dengan alam bebas, ternyata membuat kakek misyati terkena penyakit yang tidak seperti biasanya. Ia sektika lumpuh kaku tubuhnya. Misyati mulai kebingungan, karena ia dalam kesendirian tanpa seorang sauadara. Ia bisa berandai dalam hatinya "Seandainya masih ada kedua orang tuaku, pasti ia lebih ngerti menyelesaikan  musibah yang menimpa kakeku".

Misyati dahulunya masih bisa menggantungkan sebuah harapan pada kedua orang tuanya. Ketika ia sedang ada masalah atau kondisi yang membuatnya butuh bantuan. Tapi karena keduanya telah tiada, disebabkan jatuh pada jurang yang curam. Disaat dalam perjalan mencari bahan makanan di hutan, maka keduanya mati dalam keadaan mengenaskan yang dipenuhi luka-luka di sekujur tubuhnya.

Makanya sekarang ia mulai merasakan kebingungan menghadapi sebuah musibah yang sedang menimpa kakeknya. Tapi misyati tidak putus asa akan hal itu, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menemukan obat untuk kakeknya. 

                                           ***

Misyati Dengan rasa cemas  menatap kelangit yang mulai petang, seperti meminta petunjuk pada sang kuasa untuk diberi jalan atas musibah yang menimpanya. Ia sudah tak mampu lagi menahan pikiran yang berkecamuk bercampur  rasa cemas, lalu secepatnya ia bawa tidur. Tapi,  siapa yang  menduga ia dalam tidurnya didatangi sosok laki-laki berjubah putih dengan wajah penuh cahaya. Ia memberikan sebuah petunjuk pada misyati. 

"Nak kakekmu hanya bisa  sembuh dengan mengambil sebuah buah anggur berwarna hitam dalam Goa Martula" ucap sosok jubah hitam itu

"Baik, saya akan mengusahakannya" jawab misyati

"Tapi kamu harus hati-hati, banyak rintangan menuju kesana, apalagi kalo sudah sampai di Goanya" ingatkan sosok baju putih dengan  nada yang serius.

"Baik saya akan tetap jaga diri untuk sampai disana" misyati dengan suara meyakinkan.

Keduanya bercakap-cakap sudah seperti di dunai nyata, tapi sebelum misyati tersadar dalam mimpinya ia di berikan beberapa butir batu krikil di tangannya. Batu itu diberikan untuk mampu melewati rintangan selama perjalanan menuju Goa Martula. 

Selepas itu misyati terbangun dengan kondisimandi keringat di sekujur tubunya, dan hati bergetar. Ia mulai mengusap wajahnya, lalu ia menoleh kesampingnya, ternyata ada beberapa butir krikil seperti dalam mimpinya. Dan dia semakin yakin bahwa ia telah benar-benar dapat petunjuk  dari mimpinya. Melihat keluar ternyata masih tengah malam, misyati melanjutkan tidurnya.

                                         ***

Kini pagi telah tiba, misyati mulai bersiap-siap dan mengantongin batu krikil yang tadi malam ia diberi sosok berjubah itu. Sebelum berangkat ia sudah mempersiapkan beberapa makanan untuk kakeknya, karena ia tahu akan seharian gak akan pulang. 

"Kek, ini sudahku persiapkan beberapa makanan di meja kakek." Misyati dengan raut wajah sedih

"Iya cucuku, hati-hati selama perjalanan. Semoga kembali dengan selamat" pesan kakeknya

Setalah itu misyati berangkat menuju Goa Martula. Namun dalam pikirannya masih ingat pesan pada sosok berbaju putih dalam mimpinya, bahwa selama perjalanan ia harus berhati-hati. Karena menuju Goa Martula terlalu banyak rintangannya. 

Ternyata di pertangahan perjalanan misyati di hadapkan pada sebuah rintangan, yakni bertemu laba-laba besar. Dengan rasa ketakutan ia berlari, dan terus berlari. Namun salama ia berlari ada suara terdengar di telinganya yang tidak tahu dari mana sumber suara itu

"Nak, ambil beberapa batu yang kantongi itu, lalu  lemparkan ke laba-labanya" perintah suara yang tidak tahu dari mana sumbernya.

Tanpa dipikit dua kalu misyati melemparkan batu itu ke laba-laba raksasa itu. Namun laba-labanya belum mati, kalo masih satu butir batu, setelah ketiga kalinya laba-labanya hancur dan mati.

Misyati melanjutkan perjalanannya menuju Goa martula. Rintangan sudah ia lalui, tapi bukan berarti tidak ada lagi. Hatinya tetap meyakin di setiap langkahnya untuk tetap sampai kemana yang ia hendak di tuju. Karena dalam dirinya sudah berjanji ia tidak ingin pulang tanpa anggur hitam itu. 

                                          ***

Sampailah misyati pada Goa martula itu. sekalipun sudah sampai,  bukan berarti harus berbangga diri, justru ia masih harus melawan harimau penunggu di Goa Martula. Pertamanya ia melawan hanya dengan menggunakan kayu jati, hingga membuat misyati mendapat cakara di bahunya. Tapi, lagi-lagi suara tanpa sumber itu memerintah lagi untuk melempari hariamau itu dengam sisa-sisa batu tadi. 

Ia langsung mengambil batunya dan melemparinya pada harimau ganas yang sedang ia hadapinya. Maka matilah harimaunya, lalu misyati masuk ke Goa Martula hendak mencari anggur hitam yang ia cari. Dan ia sudah mendapatinya dalam Goa tersebut, dengan mengambil satangkai anggur hitam. 

Karena melihat matahari sudah hampir tenggelam. Lalu ia bergegas untuk secepatnya kembali, sebelum malam tiba. Rasa bahagia dan puas sudah dirasakan misyati sebelum sampai kerumahnya, lantaran apa yang ia inginkan suda didapati.

                                           ***

Sampailah misyati kerumahnya, dengan membawa sebuah harapan untuk kesembuhan penyakit yang sedang diderit kakeenya. 

"Kek, aku sudah datang, dan bawa anggur hitamnya" ucapnya, dengan wajah bahagia

"Al hamdulillah cucuku, akhirnya kau datamg dengan selamat" jawab kakeknya

Setelah itu dimakanlah buah anggur hitam tersebut oleh kakek misyati, dan akhirnya sembuh total sebagaimana kondisi sebelumnya. Petunjuk dalam mimpi di kala itu ternyata meberikan sebuah harapan dan kepastian akan kesembuham kakeknya.  Kesembuhan kakeknya membuat misyati  merasakan kebahagiaan kembali, yang sebelumnya sempat hilang. Dan keduanya hidup bahagia da tentram. 


Komentar