Suka Duka Negeriku

                     

Sumber: Kompasiana.com


                                Duka Demokrasi

Terdengar suara tangisnya dari bilik kecil itu, 
Lalu Menjerit dan lalu meminta "aku lapar, ingin makan"

Tapi aku tidak peduli itu, lapar atau mati sekalipun dirimu, terserah.
Karena kau bukan anakku, tapi hanyalah ayah yang mewakilimu.

Lalu dia ingatkan " aduh.... tapi kau yang perintahku dulu, untuk jadi wakilku"

Haaaaa... 
Mati saja kau, siapa suruh makan uang pesta demokrasi dikala itu.
Kamu pikir aku bodoh... itu hanya penikmat, pelezat sebelum aku menjabat.

Kini kau rasakan akibatnya, dan mengerti maksudku dahulu.
Haaa... haaa.... mati saja kau, kutak lagi membutuhkan jeritanmu.

Cak lil, 14 juni 2020



                              Sudut kota

Di keramaian kota aku telah menjadi asing
Aku hanya berteduh pada suasana sepi
Bersandar pada dinding berjamur
Dan beralaskan comberan di bawahku


Angin-angin menjadi teman setiaku
Di kala malam telah tiba
Kini aku tetap sendiri.
terlilit sebuah harapan dan impian 


Tapi aku, tetaplah aku yang begini adanya
dengan segala kenestapaan hidup di pinggiran
Pergi dan kembali sama saja bagiku
Karena tetaplah langit dan bumi yang menjadi tempat tinggalku.

Cak lil, Minggu 12 juli 2020


                               Kemerdakaan

Terdengar nada di telinga kanan kiriku "Indonesia Tanah Airku"
Angin - angin sepoi mulai berhenti melambaikan dedauanan
I
Serentak suasana terdiam sepi
Bagai hening cipta pada Alam

Bendera merah putih berkibar kebarat-ketimur kutemukan
Di berbagai atas udara
Menaungi peluh - peluh yang berceceran pada permukaan dalam sebuah perjuangan

Iya Perjuangan, pengorbanan dan impian besar
Telah dicapai, tapi tidak selesai hanya dengan kata "Merdeka"

Akan Selalu ada waktu dan tempat tuk tersadar, bahwa tanah nenek moyangmu akan terabadikan dengan abdimu pada negri tercinta ini

Disitulah engkau lantang dengan kata merdeka
Yang sebenarnya tanpa suara nyaring.
Jayalah indonesiaku.

Cak lil, 17 Agustus 2020


Perihal cinta

Manatapmu bagiku bayangan yang hinggap manakala cahaya telah memudar pada permukaan bumi

Rembulan pun tersipu malu, ia menggeser sabagian cahayanya pada awan hitam itu.

Dan aku t'lah halu terhadap Tatapan matamu yang mampu mendikteku melukiskan harapan besar tentangmu

Tapi bagaimana mungkin, impian-impian itu mampu mewujudkan segenap pengaharapanku
Sedangkan aku tidak pernah tahu rasa dan isi hatimu padaku

Walaupun begitu kutetap tak putus asa dalam memanjatkan do'a pada sang pemilik langit dan bumi
Pada tiap harapan-harapan di tengah malam itu.

Cak lil , 18 Agustus 2020






Komentar