Mahasiswa, Akademisi dan Organisatoris


                                                Oleh: Cak lil


   Mendapat  gelar sebagai  seorang Mahasiswa adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang siswa  yang baru menggeluti pendidikan yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi. Namun yang   menjadi permasalah di bangku kuliah , tidak lain berbagai macam tipologi seorang mahasiswa di dalam menentukan roh kemahasiswaannya . Karena sering kita jumpai , di antara mahasiswa yang inigin mendalami suatu ke ilmuannya, contoh seperti mahasiswa yang lebih suka akan  akademisi dan juga gemar akan organisasi. Padahal keduanya adalah sebuah komponen atau formulasi di dalam pembentukan seorang mahasiswa. Sebgaimana yang di sampaikan oleh bapak Anies Baswedan, yang Pada saat itu beliau masih menjabat Mentri Pendidikan. “bahwa seorang mahasiswa tidak hanya belajar di dalam bangku perkuliahan, tapi juga di luar bangku kuliah”, Apa makna  dari perkatataan beliau , berarti mahasiswa tidak cukup kalau hanya mengandalkan akademiknya , tapi juga harus ada  korelasi dengan  sebuah organisasi.
           Sekarang yang kita rasakan di  dalam dunia kampus, seorang mahasiswa kita dapat  melihat   salah satu tipologi kemahasiswaannya , seperti yang saya maksud tadi , ada yang akademisi dan organisatoris. Namun walaupun begitu saya tidak mempermasalahkannya, karena kemungkinan itu adalah salah satu cara proses di dalam mencari roh kemhasiswaannya. Sekalipun seorang mahasiswa sudah mempunyai jalan ataupun peta dalam menentukan posisi dirinya , maka tidak boleh ada kontradiksi di antara keduannya.
          Ada bebarapa karakteristik di  dalam membedakan antara mahasiswa yang akademisi dan organisatoris, kita dapat lihat bagaimana seorang mahasiwa tersebut dalam menempatkan dirinya, contoh seorang mahasiswa akademisi, dia akan selalu aktif dan rajin dalam perkuliahan , atau tunduk akan tugas-tugas yang diberikan dosen kepadanya, sedangkan seorang mahasiswa yang organisatoris dia akan selalu berusaha di dalam memaksimalkan akan tanggung jawab yang sedang ia jalani, entah itu dalam kegiatannya ataupun prokernya. Namun ,walaupun begitu seorang mahasiswa yang organisatoris tadi, bukan berarti meninggalkan tugas ataupun tanggung jawab akademiknya. Tapi juga tetap berusaha akan membagi waktunya.
           Yang seharusnya kita sadari saat ini tidak lain, bagaimana menjadi mahasiswa yang baik , baik secara akademik ataupun  oragnisasi ,dan  juga mempunyai progresif kedepannya, jadi walaupun  ada banyak tipologi mahasiswa yang berbeda dalam menentukan roh kehasiswaanya ,di dalam proses dunia kampus kita tidak perlu mempersoalkan perbedaan di antar keduanya , entah itu akademisi dan organisatoris. tapi sebagaimana yang saya katakan tadi , mahasiawa harus mempunyai progresif kedepannya agar tidak hanya pandai membentuk atau membangun wacana.




NB: Kritik dan Saran adalah kebanggan tersendiri.

Komentar