![]() |
| Foto: Kompas.com |
Pilkades (Pemilihan kepala desa) seminggu lagi akan berlangsung di desanya itu. Tim sukses dari Semua Cakades sudah mulai dipersiapkan dan digalakkan. Dari dipersiapkannya strategi dan pemetaan kampanye untuk kemenangan Cakades. Suasana kali ini sedang panas-panasnya bagi sebuah desa yang masih jauh dari kata hirupan udara modern.
Dalam Pemilihan kepala desa, keberadaan desanya teryata sangatlah berbeda dalam memetakkan arah gerakan politiknya. Seperti halnya pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden. Biasanya dalam pemilihan tingkat kabupaten sampai provinsi. Pemerannya yang menduduki peran penting di tim pemenengan, biasanya Publik Figur atau sesama politisi.
Dapat dilihat dengan sendirinya pada Calon No. Urut 01 Abdurrahman dan Sholihin No. Urut 02. Di dalam menentukan Tim Pemenangan antara keduanya. Untuk melangkah lebih jauh pada titik kemenangannya, keduanya melibatkan seseorang yang mempunyai pengaruh di masyarakat. Bukan kyai apalagi politisi, tapi ia belater. Di desa itu bukanlah hal yang baru pergerakan politik semacam ini, sudah berkali-kali terulang dan terjadi. Karena endingnya pun benar-benar bisa membawa pada puncak kemenangan.
Posisi Belater di desa itu, manjadi sosok orang yang disegani. Selain itu, ia juga punya peran penting dalam persoalan keamanan desa, hingga penentuan pemerintah desa. Apabila belater tidak mempunyai keterlibatan dalam pemilihan kepala desa, bisa dipastikan. Imbasnya nanti akan melarutkan pada keamanan desanya yang tidak stabil. Karena tidak lagi memperdulikan peran penting seorang belater itu sendiri.
***
Suparman sosok belater yang dipercayai untuk memobilisasi massa untuk tim pemenangan Calon No. Urut 1 sudah turun gunung secara lansung ke setiap dusun-dusun di desanya. Memastikan sinar baru di desa itu akan segera terbit. Seperti ambisi Cakades keduanya.
Dengan bermodal badan kekarnya dan kumis yang tebal, ia pikir cukuplah membuat segenap masyarakat mengernyitkan dahi. Bagi seorang Suparman. Ia sosok dari sekian belater yang mempunyai pengaruh besar di desa itu. Sehingga tak salah jika masayarakat sedikit getir dan membuat dada bergetar dengan kedatangannya di tengah-tengah perkampungan desanya.
Dengan kebisaan ngopinya, suparman memanfaatkan kondisi untuk ikut larut dan berbaur dengan masyarakat di warung kopi. Ditemani rokok kretek dan kopi pahitnya, sambil menyulut rokok. Ia mengawali pembicaraan dengan menyinggung salah satu calon yang didukungnya.
"Bagaimana pak, pemilihan Kepdes." Sapanya pada salah satu masayarakat.
"Wah.... belum tahu pak, masih melihat situasi dan kondisi dulu." Dengan Spontannya salah satu masyarakat jawab.
"Loh.. Kok bisa begitu pak ?" Tanyak balik suparman.
"iya gimana pak." Salah satu masyarakat jawab dengan suara gemetar.
"kalian harus sesuai dengan pilihan saya, memilih Calon No. Urut 1." Mengertak, sambil memukul meja.
Melihat ke dilemaan itu, suparman berusaha menyakinkan bahwa masyarakat harus memilih Calon No. Urut 1. Jika tak memilihnya ia membuat ancaman keamanan yang ada di desanya. Hanya dengan modal ke-belateran-nya. Mansyarakat pun dibuatnya berfikir dua kali dengan pernyataannya itu .
"Iy...ya pak." Dengan rasa takut dan gemetar.
Sebagian masyarakat sudah menyatakan sikapnya untuk mendukung Calon No. Urut 01, Abdurrahman. Melihat situasi di desa itu, masyarakat masih merasa tertekan dan serasa hak pilihnya hanya dapat ditentukan oleh seorang belater. Karena anggapan mereka tetap sama sebagaimana ancaman diawal. Jika tidak mengikuti apa yang dinginkan belater, bisa jadi nanti keamanan desanya terancam dan tak terkendali.
***
Disisi lain tim pemenangan Calon No. Urut sudah ikut mengepakkan sayapnya, yang dimobilisasi oleh syaiful. Ia juga seorang belater desa itu. Namun pamor dan pengaruhnya masih dibawahnya Suparman. Syaiful pun sadar akan keberadaan dirinya, yang sudah mulai menurun pengaruhnya di masyarakat. Maka ia pilih-lah jalan pintas bernama money politic (politik uang). Karena tanpa didorong itu, ia akan kalah dengan suparman yang hanya fokus pada ke belaterannya.
Dengan gerakan politik semacam itu syaiful sudah yakin. Bahwa dirinya tidak akan kalah dalam menghimpun massa. Karena bagaimanapun. Ia pun sadar kondisi desanya dalam persoalan pendapatan uang sangat minim dan nyaris tidak mempunyai pendapatan tetap. Hingga masyarakat pun menerimanya uang yang diberikan oleh pendukung Calon No. 02 Sholihin. Dengan satu pilihan, hak pilihnya diperuntukkan calon No. 2.
Syaiful pun membulatkan tekad dengan perjanjian itu terhadap masyrakat. Ia menyatakan, bahwa uang darinya harus memenuhi dengan kesepakatan diawal. Ia harus mememilih Calon No. 02. Suka tidak suka masyarakat harus patuh pada perintah itu. Syaiful itu hampir sama dengan Suparman pada masyarakat. Bila nantinya masyarakat tidak memberikan hak pilihnya, maka harus menerima konsekuensinya.
***
Kondisi Suparman mulai merasa tidak nyaman dan gelisah dengan keberadaan desanya. Ia hawatir para pendukungnya akan pindah ke Syaiful. Karena syaiful dilihatnya mulai menapakkan kakinya dua langkah dibelakangnya. Sehinggga Ia dibuatnya berfikir. Jika syaiful dibiarkan begitu saja, maka dirinya akan mengarungi nasib kekalahan. Sekalipun ia tahu, saat ini keberadaan dirinya mempunyai pengaruh besar di desanya.
Suparman mulai berinisiatif untuk bertemu syaiful dan ingin membicarakan perihal pemilihan Kepdes. Kebetulan syaiful pernah dalam satu koalisi dalam pemilihan kepala desa sebelumnya dengan suparman.
Keesokan harinya keduanya memutuskan untuk bertemu disalah satu markas di desanya, yaitu tempat berkumpulnya para belater. Dan kebetulan keduanya pernah satu koalisi dalam Pilkades sebelumnya.
"Gimana kabarnya kawan?" Sapaan hangat dari suparman
"Baik, kawan." Dengan nada bersahabat.
Setelah bincang-bincang saling tanyak kabar. Percakapan keduanya dibawalah pada sebuah negosiasi dengan tawaran suparman kepada syaiful untuk berpihak padanya dalam pemilihan Kepdes kali ini. Tapi suparman meminta pada syaiful kalau di depan Bapak Sholihin ia harus menyatakan sikap bahwa dirinya tetap menjadi pendukungnya. Artinya bagaiamana tidak menimbulkan kecurigaan pada dirinya.
Syaiful menyepakati itu dengan tawaran uang yang akan diberikan kepadanya. Ia ditawari nilai uang yang lebih besar pemberiannya dari Bapak Sholihin. Karena sebagian belater, hanya dicukupkan pada persoalan perut saja. Dan keduanya memilih untuk berada di posisi itu.
***
Syaiful selalu memberikan angin segar pada Pak Sholihin, sebagaimana janjinya pada Suparman. Setiap kali menerima laporan itu, Pak Sholihin santai saja. Ia hanya pasrah pada syaiful yang di dipercayainya. Padahal Syaiful sudah menjadi api dalam sekam dengan Suparman, yakni sebagai Tim pemenangan calon No. Urut 01. Dengan kepercayaan pada Syaiful, Pak Sholihin meyakini ia pasti akan menang pada Pilkades.
***
Pilkades pun berlangsung. Pasangan calon No. Urut 01 dan 02 hanya bisa pasrah dan meyakini pada seorang belater yang dianggap mampu bisa membawanya pada titik kemenangan sebagai kepala desa. Padahal kemenangannya sudah berada ditangan Calon No. 01. Jadi pemilihan kala itu hanya sebatas formalitas belaka saja dalam pesta demokrasi. Iya tidak lain hanya untuk menyatakan bahwa seolah-olah ada yang terpilih secara demokratis. Walaupun keduanya dalam pemilihan itu sudah keluar dari koridor hukum. Sudah tidak JURDIL (Jujur dan Adil) dari awal.
Pada akhirnya kemenangan berpihak pada No. 01 dengan bapak Abdurrahman. Sedangkan bapak Sholihin meratapi nasibnya. Ia curang dan masih juga dicurangin oleh belater yang ia pilihnya sendiri.
Iya begitulah kontestalasi perpolitikan ala desa saya. Jika bukan karena adanya belater, maka saya yakin tidak dapat berjalan mulus. Tapi karena adanya peran penting dari seorang belater, maka salah satu Cakades bisa menduduki pemerintahan desa. Ironis dan miris di desa saya ketika perpolitikan kultural semacam itu . Kesannya hanya diperbudak ketakutan sosial, yakni sosok belater itu sandiri.

Komentar
Posting Komentar