![]() |
| Foto: Republika. Id |
Sebagai pembelajar menjadi seorang aktivis kampus, saya berusaha mengekspolorasi diri dengan menambah relasi di kampus. Mulai dari sudut ruang-ruang kelas dan warkop pun saya cari, ia namanya orang ingin belajar. Hehehe
Mencari relasi bukanlah hal mudah yang hanya tinggal duduk lalu mengajak diskusi, lebih dari itu ternyata perlu memahami banyak tipologi para aktivis saat ingin diajak bicara. Karena secara tidak langsung, berkenalan bukan hanya soal saling kenal nama lalu selesai, akan tetapi juga soal karakter personalnya.
Ok.. kembali lagi ke aktivis, kata "Aktivis" Menjadi suatu yang sangat dibanggakan apabila melekat pada seorang diri mahasiswa, ia sayapun mengiranya begitu. Namanya mahasiswa baru, pantaslah untuk mengikuti apa kata orang-orang di sekitarnya . Ia walaupun kadang saya berfikir, masak cuman mempunyai sematan nama aktivis saja sudah bangga.
Menemukan relasi teman-teman aktivis, rasa ingin tahu semakin memuncak. Hei... memuncak rasa ingin tahu tentang aktivisnya , bukan sama si doi. Terlepas dari pengertian baku dari makna aktivis, saya mendapatkan dari hasil diskusi, secara pendek kata aktivis adalah sosok orang idealis yang mempunyai peran penting dalam mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ketika bicara idealis, maka itu adalah hal yang sangat ideal yang tidak semua orang dapat menempelkan sematan itu pada dirinya. Walaupun kadang saya merasa ironis dan geli sendiri, ketika melihat salah seorang mahasiswa yang jarang masuk kuliah dan aktif di berbagai organisasi lalu seoalah-olah sudah menyeret kata aktivis pada dirinya.
Seandainya syarat menjadi aktivis hanya absen kuliah dan aktif di berbagai organisasi. Tentunya saya pun lebih bisa disebut aktivis Mahasiswa, dengan melakukan syarat itu. Ia kan saya masih mahasiswa baru, Jadi ke-aktivisannya lebih Afdol ( utama). Ia lagi-lagi sayangnya tidak seperti itu menjadi sosok aktivis. Tapi bila salah satu proses manjadi seorang aktivis jembatannya organisasi, maka itu benar. Namun absen kuliah tidak menjadi bagiannya.
Jika pembaca masih lebih setuju mengkatogorikan aktivis yang jarang masuk kuliah dan aktif organisasi, lalu menjadi sosok yang ideal dan berhak mendapat sebutan aktivis. Mohon maaf saya sangatlah kurang setuju. karena soalah-olah menjadi aktivis hanyalah hal yang mudah dan sederhana . Padahal ia harus mengemban beberapa tugas di pundaknya, sehingga ia menjadi sosok yang ideal.
Ia kembali diawal tadi, bahwa aktivis seharusnya menjadi pundak orang-orang yang ideal dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jadi aktivis bukan hanya julukan ketika di warung kopi dan lebih lama durasi ngopinya, dan dengan bangganya memarket dirinya pada lingkungan kampus. Karena hanya doyan diskusi dan mematahkan lawan bicaranya.
Karena kebanyakan saya lihat dari sekian relasi sebagian teman-teman aktivis. Mereka lebih sering disematkan teman sesama aktivisnya pada saat di kampus ataupun Warkop. Al hasil itu sangatlah absurd, ketika mejadi aktivis hanya diletakkan pada orang yang sama-sama aktivis. karena aktivis bukan waliyullah (wali Allah) yang bisa menilai sesama walinya.
Hem... singkat kata itulah obrolan sederhana saya dengan sebutan yang ia banggakan, aktivis. Lewat catatan pendek yang sengaja ditumpahkan dalam tulisan ini, ternyata aktivis itu bukan persoalan banyak organisasi dan absen kuliahnya. Tapi persoalan peran, tanggung jawab dan komitmen atas nama Mahasiswa sebagai pengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sekarang kalaupun ada sosok aktivis perlu ditanyak kembali ke-Aktiviasiannya. Takut hanya lebel saja untuk lebih familiar ia di kampusnya. Kayak lebel halal MUI, biar kelihatan lebih yakin para konsumennya bahwa produk yang ia beli itu Halal. Kendatipun seperti itu berarti Mahasiswa tidak menjadi ideal, sebagai aktivis yang sebenarnya.

Komentar
Posting Komentar