mungkin kalian banyak bertanya,
mengapa saya menuliskan Manusia Formalitas? , namun yang saya rasakan saat ini
memang sudah begitu kondisinya, jadi segala sesuatu itu, di dalam bersosial
dalam hidup ini , hanya di anggap sebuah tekanan dan keharusan, sehingga mau
tidak mau, di tuntut untuk melakukanya , walaupun itu
hanya sebatas basa-basi untuk
memenuhi kepentingan secara individual atau kelompok.
Dan lebih parahnya lagi, perilaku manusia sekarang , hanya di anggap sebuah aturan yang sifatnya tidak fomal, seperti halnya yang saya katakan tadi, ialah sekedar mengikuti keadaan atau keharusan (formalitas ) belaka.
Dan lebih parahnya lagi, perilaku manusia sekarang , hanya di anggap sebuah aturan yang sifatnya tidak fomal, seperti halnya yang saya katakan tadi, ialah sekedar mengikuti keadaan atau keharusan (formalitas ) belaka.
Memang, tidak bisa pungkiri
juga, ketika di lihat dari keadaan zaman sekarang ini, yang hanya bisa
mengedapankan keinginan terhadap suatu kepuasan tertentu, yang endingnya nanti, tidak lain larinya pada suatu kepentingan , di antaranya, seperti
ketika ada tugas dari seorang guru
maupun dosen yang sifatnya individu atau kelompok, seorang siswa atau
mahasiswa hanya menjadikannya sebuah
alasan untuk memenuhi nilai kuantitasnya , setelah selesai tugasnya, maka selesai pula pembelajaran ataupun mata
kuliahnya.
Mestinya ia tak sampai di situ saja, karena tugas seorang pelajar tidak cukup sampai disitu, namun ia juga harus ada interpretasi dalam bentuk tindakan , sehingga terbukti dengan realitas dan kualitas yang ada.
Mestinya ia tak sampai di situ saja, karena tugas seorang pelajar tidak cukup sampai disitu, namun ia juga harus ada interpretasi dalam bentuk tindakan , sehingga terbukti dengan realitas dan kualitas yang ada.
Jadi salah satu letak kesalahannya tidak lain adalah pola pikir yang di bangun,
di dalam bertindak dan memberi tindakan dalam pekerjaan hal apapun, jadi kalau seandainya tidak seperti itu mungki ia
berfikiran tidak ada pencapaian yang pasti, sehingga yang di jadikan
standarisasi adalah nilai kuantitas bukan kualitas. Dan disitulah terjadi, proses manusia formalitas, yang
hanya menganggap sesuatu itu adalah bentuk keharusan dan tekanan.
Sebenarnya suatu pekerjaan ataupun kegiatan, tidak hanya terbatas pada saat ia sedang berada dalam posisi ia harus bertindak, namun juga harus memperhatikan, apa yang seharusnya di perbuat, agar mendapat output berkualitas bukan berkuantitas, karena dalam hidup ini tidak selamanya harus terpaku pada kalkulasi.
Sebenarnya suatu pekerjaan ataupun kegiatan, tidak hanya terbatas pada saat ia sedang berada dalam posisi ia harus bertindak, namun juga harus memperhatikan, apa yang seharusnya di perbuat, agar mendapat output berkualitas bukan berkuantitas, karena dalam hidup ini tidak selamanya harus terpaku pada kalkulasi.
Jadi, intinya tidak lain agar
bisa membuat kesadaran dalam berfikir, di dalam memberikan sebuah tindakan,
jika dulunya kita di perbudak oleh nilai kuantitas, sekarang harus rubah cara
berfikirnya, setidaknya bisa memahami dan mengerti yang seharusnya di lakukan.
Agar tidak selalu terpaku dan nyaman dalam situasi itu, yakni sebagai manusia formalitas. Karena kalau tetap begitu nantinya terjebak akan keadaan tersebut tadi, berarti ia perlu belajar menghayati hidup yang sebenarnya, biar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai kehidupan ini.
Nb: saran dan masukan sangat di perlukan
Agar tidak selalu terpaku dan nyaman dalam situasi itu, yakni sebagai manusia formalitas. Karena kalau tetap begitu nantinya terjebak akan keadaan tersebut tadi, berarti ia perlu belajar menghayati hidup yang sebenarnya, biar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai kehidupan ini.
Nb: saran dan masukan sangat di perlukan

Bagus sekali, tulisan seperti ini perlu sekali di baca oleh mahasiswa/i agar mereka sadar apa sih yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar ....👍
BalasHapusSaya mintanya di koreksi , kok di puji. Iyya gak apa2 . Al hamsulillah
Hapus