Manusia Formalitas


Oleh: Cak Lil


      mungkin kalian banyak bertanya, mengapa saya menuliskan Manusia Formalitas? , namun yang saya rasakan saat ini memang sudah begitu kondisinya, jadi segala sesuatu itu, di dalam bersosial dalam hidup ini , hanya di anggap sebuah tekanan dan keharusan, sehingga mau tidak mau, di tuntut untuk melakukanya , walaupun  itu  hanya  sebatas basa­-basi untuk memenuhi kepentingan secara individual atau kelompok.
    Dan lebih parahnya lagi, perilaku manusia sekarang , hanya di anggap sebuah aturan yang sifatnya tidak fomal, seperti halnya yang saya katakan tadi, ialah sekedar mengikuti keadaan atau keharusan (formalitas ) belaka.
    Memang, tidak bisa pungkiri juga, ketika di lihat dari keadaan zaman sekarang ini, yang hanya bisa mengedapankan keinginan terhadap suatu kepuasan tertentu, yang  endingnya nanti, tidak lain larinya pada  suatu kepentingan , di antaranya, seperti ketika ada  tugas dari seorang guru maupun  dosen yang sifatnya  individu atau kelompok, seorang siswa atau mahasiswa  hanya menjadikannya sebuah alasan untuk memenuhi nilai kuantitasnya , setelah selesai tugasnya,  maka selesai pula pembelajaran ataupun mata kuliahnya.
    Mestinya ia tak sampai di situ saja, karena tugas seorang pelajar tidak cukup sampai disitu, namun ia juga harus ada interpretasi dalam bentuk tindakan , sehingga terbukti dengan  realitas dan kualitas yang ada.
    Jadi salah satu letak kesalahannya  tidak lain adalah pola pikir yang di bangun, di dalam bertindak dan memberi tindakan dalam pekerjaan hal apapun, jadi kalau  seandainya tidak seperti itu mungki ia berfikiran tidak ada pencapaian yang pasti, sehingga yang di jadikan standarisasi adalah nilai kuantitas bukan kualitas. Dan disitulah  terjadi, proses manusia formalitas, yang hanya menganggap sesuatu itu adalah bentuk keharusan dan tekanan.
    Sebenarnya suatu pekerjaan ataupun kegiatan, tidak hanya terbatas pada saat ia sedang berada dalam posisi ia harus bertindak, namun juga harus memperhatikan, apa yang seharusnya di perbuat, agar mendapat output berkualitas bukan berkuantitas, karena dalam hidup ini tidak selamanya harus terpaku pada kalkulasi.
    Jadi, intinya tidak lain agar bisa membuat kesadaran dalam berfikir, di dalam memberikan sebuah tindakan, jika dulunya kita di perbudak oleh nilai kuantitas, sekarang harus rubah cara berfikirnya, setidaknya bisa memahami dan mengerti yang seharusnya di lakukan.
      Agar tidak selalu terpaku dan nyaman  dalam situasi itu, yakni sebagai manusia formalitas. Karena kalau tetap begitu nantinya terjebak akan keadaan tersebut tadi, berarti ia perlu belajar menghayati hidup yang sebenarnya, biar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai kehidupan ini.



Nb: saran dan masukan sangat di perlukan

Komentar

  1. Bagus sekali, tulisan seperti ini perlu sekali di baca oleh mahasiswa/i agar mereka sadar apa sih yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar ....👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mintanya di koreksi , kok di puji. Iyya gak apa2 . Al hamsulillah

      Hapus

Posting Komentar